Minggu, 24 Mei 2009

PERNIKAHAN MAS YOSY-PARAS






AKHIRNYA MENIKAH JUGA…

Agaknya itulah yang tersirat dalam benak mas Yossy ketika bersanding dengan mbak Dewi di altar gereja pepanthan Paras. Ya Jumat 22 Mei 2009 pukul 11.00 Saudara kita Yosi Kristiawan Purwo Handoko mempersunting gadis pujaan hatinya.. prawan Klaten yang bernama Dewi Kusuma Rini. Mereka telah jauh hari mempersiapkan acara berbahagia tersebu, bahkan telah mengikuti kelas katekisasi pranikah yang diampu pak pdt. Simon Julianto. Katanya selalu nglajo dari solo-boyolali tiap katekisasi. Acara peribadatan peneguhan Pernikahan dan pemberkatan Perkawinan menjadi sangat istimewa karena sebagian warga gereja Boyolali datang untuk nyengkuyung. Paduan Suara Gema Nafiri menjadi group utama pemuji Tuhan; mereka melagukan pujian wajib Berkatilah, She was my ring, Bapa Engkau sungguh baik dan Setialah. Seperti biasa conductor koor bu Rini Imanuel dengan lincah memimpin kelompoknya.
Tidak seperti biasa pak pdt. Simon tampil sangat berwibawa pada saat memimpin kebaktian… pake kacamata bening dengan frame hitam, tidak tahunya sedang ketiban Bel (sakit mata). Meskipun kriyip-kriyip bengkak pak Simon memandu pengantin mengikuti rangkaian peribadatan. Bacaan yang diambil adalah II Petrus
1:10 “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.”
Pengantin diingatkan untuk memenuhi panggilan Tuhan dalam kehidupan. Panggilan dan pilihan adalah kata-kata yang khusus dihayati. Setiap orang beriman dipanggil untuk teguh pada panggilan dan pilihan Allah, karena hanya dengan teguh pada kedua hal tersebut maka orang akan tegap melangkahi hidup. Demikian pula panggilan untuk berkeluarga serta pilihan dengan siapa dia akan berkeluarga, adalah panggilan dan pilihan yang bersifat konsiten tidak plin-plan… pengantin manthuk-manthuk mendengar itu, moga-moga tahu benar ya.
Setelah kebaktian selesai pengantin dan keluarga segera pulang.. dekat kok, Cuma 100 meter dari gereja, pas sebelah utara gapura Paras. Tamu sudah menunggu di rumah untuk resepsi. Sayang pak Simon yang sudah berganti kacamata keren bak bintang tidak bisa mampir… hehe katanya lagi diare. Ok deh.Selamat berbahagia mas Yosi berdua

Selasa, 19 Mei 2009

PELAYANAN PRAKTIS ANGGOTA MAJELIS

PELAYANAN PRAKTIS ANGGOTA MAJELIS GKJ BOYOLALI

I. TUGAS DALAM KEBAKTIAN
1. Tugas umum Majelis GKJ Boyolali dalam kebaktian adalah sebagai penanggung jawab berjalannya kebaktian di seluruh kemajelisan kepada Tuhan.
2. Majelis Pendamping sesuai dengan urutannya bertanggung jawab dalam tugas-tugas yang melekat dalam kebaktian: Urutan 1(P1) bertugas sebagai wakil majelis/Imam yang menghantar doa konsistori dan penyerahan Alkitab kepada pengkotbah. P2 bertugas among tamu/jemaat, P3 bertugas mengkoordinir pelaksanaan persembahan, P4 bertugas mencatat kehadiran warga jemaat, P5 bertugas membaca warta jemaat.
3. Majelis Pendamping datang dalam kebaktian paling lambat 15 menit sebelum kebaktian dimulai. Hal ini untuk mengantisipasi kondisi darurat yang dapat saja terjadi(contoh: pengkotbah mendadak sakit), juga untuk melakukan persiapan teknis yang mendukung lancarnya kebaktian( sound system, tempat duduk jemaat, papan liturgy dsb)
4. Pendamping 1 bertanggung jawab untuk melakukan persiapan kotbah, karena dalam kondisi darurat pengkotbah berhalangan mendadak maka P1 yang harus tampil. Oleh karena itu disarankan P1 selalu membawa bahan kotbah jangkep, lebih baik apabila dibaca sebelumnya.
5. Doa konsistori: Adalah doa yang dilakukan oleh P1 sebelum kebaktian dilaksanakan dan setelah kebaktian dilaksanakan. Doa konsistori I tidak perlu panjang-panjang karena pada prinsipnya menyerahkan jemaat dan pengkotbah serta Majelis dalam pemeliharaan Tuhan. Sedangkan Doa Konsistori II pada prinsipnya mengucap syukur atas pemeliharaan Tuhan dalam kebaktian, pada doa II ini dimungkinkan mendoakan syafaat yang belum didoakan oleh pengkotbah.
6. Penyerahan Alkitab pada awal kebaktian dan akhir Kebaktian: adalah symbol dari penyerahan mandat Majelis GKJ Boyolali kepada pengkotbah untuk melayankan kebaktian.
7. Pembacaan Warta Jemaat: Dilakukan oleh P5 dengan terlebih dahulu meneliti warta yang akan dibaca sehingga pada saat pembacaan tidak terkesan serampangan, tegas dan tidak tergesa-gesa, P5 tidak diperkenankan memberi komentar-komentar terhadap warta jemaat yang mengakibatkan penafsiran yang keliru oleh jemaat.
8. Persembahan: Pada prinsipnya pelayanan persembahan adalah tugas majelis pendamping, P3 bertugas mengkoordinir pelaksanaan pelayanan persembahan tersebut. P3 juga yang bertugas untuk meminta beberapa warga jemaat untuk turut membantu apabila jumlah anggota majelis pendamping tidak mencukupi. Pelayanan persembahan ini juga terjadi setelah kebaktian yaitu dengan menghitung dan mencatat jumlah persembahan, P3 bertugas memastikan bahwa persembahan sampai ketangan bendahara Majelis GKJ Boyolali.
9. Among Tamu/jemaat: Penyambutan jemaat perlu dilakukan oleh Majelis pendamping karena jemaat adalah tamu-tamu Allah yang ingin sowan sebagai hamba-Nya. Disamping itu among tamu dilakukan untuk mengetahui adanya beberapa wajah baru yang muncul dalam kebaktian. Apabila ada wajah baru bagi tamu Allah, maka majelis pendamping harus menyambut dan menanyakan identitas serta alamat dan kemudian memberikan informasi tersebut kepada anggota majelis yang melayani pada wilayah kediaman tamu tersebut. P2 bertugas untuk mengkoordinir pelayanan penyambutan ini. Dalam hal ada warga yang terlambat hadir dalam kebaktian dan mengalami kebingungan mencari tempat duduk, maka P2 tanpa mengganggu suasana kebaktian bertanggung jawab untuk mencarikan tempat duduk bagi warga tersebut.
10. Pencatatan jumlah kehadiran warga jemaat: dilakukan untuk melakukan peta kondisi iman jemaat berdasarkan kwantitas. Pencatatan ini dikoordinir oleh P4
11. Dalam hal pengkotbah Tamu: maka majelis pendamping bertugas untuk memberitahukan informasi selengkapnya tentang kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di kebaktian GKJ Boyolali; tentang cara keluar dari konsistori, memberi informasi hal-hal yang perlu didoakan dsb. Pengkotbah tamu sebaiknya tidak disodori kantong persembahan kecuali yang bersangkutan menginginkannya. Hal ini dikarenakan ada kebiasaan dari beberapa gereja(yang mungkin juga gereja dari pengkotbah) yang memberlakukan bahwa pengkotbah tidak disodori kantong persembahan.
12. Papan Liturgi: dipakai untuk membantu jemaat mempersiapkan Lagu maupun ayat yang dipakai dalam kebaktian. Oleh karena itu Sebelum kebaktian dimulai majelis pendamping berkewajiban memastikan bahwa papan liturgy telah terisi dan terpasang, dimana sebelumnya minta kepada pengkotbah untuk meneliti terlebih dahulu.
13. PERJAMUAN KUDUS
a. Pelayanan Pendadaran: Prinsip dari pendadaran adalah menyaksikan kesaksian warga Bujono dalam menanggapi undangan Sakramen Perjamuan, dalam hal ini Majelis berkewajiban mendampingi warga jemaat untuk melakukan pendadaran atas diri mereka masing-masing.
b. Jadwal pendadaran diatur oleh majelis Kelompok maupun pepanthan sesuai dengan karakteristik wilayah serta jemaat.
c. Pelayanan Pendadaran kolektif:
- Dimulai dengan Menyanyikan pujian pembukaan
- Renungan yang berkaitan dengan persiapan Perjamuan Kudus
- Pembacaan pertanyaan pendadaran
i Apakah kita sungguh-sungguh menyadari dan mengakui bahwa kita berada dalam kondisi tidak selamat karena dosa, dan dengan kekuatan serta usaha sendiri tidak mampu melepaskan diri dari kondisi tersebut, sehingga membutuhkan juru selamat yang berkuasa melepaskannya?
ii Apakah kita sungguh-sungguh bertobat serta menyerahkan diri dengan penuh keyakinan kepada Allah yang menyelamatkan melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus?
iii Apakah kita sungguh-sungguh bertekad menyerahkan diri untuk hidup sesuai dengan firmanNya?
iv Apakah kita sungguh-sungguh bertekad senantiasa menjalani hidup penuh syukur atas anugerah penyelamatan Allah?
- Saat teduh
- Penanjihan kepada masing-masing warga tentang kesaksiannya: diawali dengan pernyataan bahwa majelis tidak ndadar jemaat, tetapi akan menerima kesaksian jemaat atas pendadaran mereka masing-masing
- Doa penyerahan kesanggupan jemaat
- Nyanyian penutup dilanjutkan doa penutup
(Dalam hal khusus ada warga yang menyatakan tidak mengikuti Perjamuan kudus, segera ditanggapi oleh majelis dengan meminta warga tersebut setelah pendadaran selesai tidak segera pulang, tetapi membicarakan sandungannya dengan anggota majelis)
d. Pendadaran sebaiknya dilakukan dengan tidak mendadak; oleh karena itu apabila ada warga yang sampai dengan batas akhir pendadaran tidak mengikuti, anggota majelis berkewajiban mbereg warga untuk melakukan pendadaran(dengan menginformasikan jadwal pendadaran kelompok lain ataupun mengundang agar warga segera mencari anggota majelis terdekat untuk pendadaran)
e. Pendadaran kepada perorangan:
- Dimulai dengan doa pembukaan
- Membaca pertanyaan pendadaran
- Penanjihan pendadaran
- Doa penyerahan jawaban ybs kepada Tuhan dilanjutkan doa penutup
f. Perjamuan Kudus Perkunjungan
Perjamuan Kudus Perkunjungan hanya dikhususkan bagi warga jemaat yang sakit atau jompo, oleh karena itu warga jemaat yang sehat dianjurkan untuk mengikuti Perjamuan Kudus sesuai dengan Jadwal Perjamuan Kudus di GKJ Boyolali. Perjamuan Kudus Perkunjungan difasilitasi oleh para anggota majelis sesuai dengan wilayah pelayanannya secara teritorial (kelompok atau pepanthan). Diatur waktu pelaksanaannya sesuai dengan pendeta yang melayankan
g. Tamu Perjamuan Kudus
Adalah warga Gereja lain yang seasas dengan GKJ yang berkehendak mengikuti Perjamuan Kudus di GKJ Boyolali. Ybs mengikuti pendadaran sebagaimana warga GKJ Boyolali, anggota Majelis mencatat identitas gerejawi ybs untuk diumumkan pada saat kebaktian serta untuk memberitahukan kepada gereja asal tamu tersebut.



II. TUGAS DILUAR KEBAKTIAN
Tugas diluar Kebaktian adalah tugas anggota Majelis yang dilaksanakan diluar jam kebaktian resmi GKJ BOyolali. Pada Prinsipnya ada 2(dua) jenis tugas yang dapat di sebutka yaitu 1. Tugas berdasarkan keputusan Sidang Majelis dan 2. Tugas keseharian sebagai anggota Majelis
Tugas-tugas berdasarkan keputusan Sidang Majelis:
a. Mewakili Majelis GKJ Boyolali untuk mengikuti Sidang Klasis, Pelatihan atau hal-hal lain yang berkenaan dengan tugas luar kemajelisan.
b. Perkunjungan Persiapan Baptis
Perkunjungan Persiapan Babtis dilaksanakan guna mempersiapkan kesungguhan calon Babtisan maupun orang tua yang akan membabtiskan anaknya, sehingga babtisan yang akan dilayankan sungguh merupakan tanda dan meterai dari Tuhan kepada warga tersebut. Perkunjungan dilaksanakan sekurang-kurangnya oleh 2(dua) orang anggota majelis. Adapun tatacara perkunjungan dilaksanakan sebagai berikut:
- Pembukaan dengan menjelaskan maksud kedatangan dan dilanjutkan dengan doa
- Menanyakan apakah sungguh mengajukan permohonan pelayanan babtis, apakah berdasar keinginan sendiri dan tidak ada paksaan dari pihak manapun.
- Menerangkan arti baptis kepada calon baptisan, dapat juga dimulai dengan mengajukan pertanyaan tentang apakah mereka mengetahui makna baptisan.
- Menanyakan tiga macam pertanyaan yang diajukan dalam pertelaan:
1. Apakah saudara meyakini anugerah keselamatan yang ditandai dengan babtisan?
2. Apakah bersedia hidup baru sebagai ucap syukur atas anugerah keselamatan berdasar Alkitab?
3. Apakah bersedia menerima penggembalaan jika hidupnya menyimpang dari ajaran Alkitab?
- Untuk Warga yang akan membabtiskan anaknya diajukan 3(tiga ) pertanyaan pula:
1. Apakah percaya dan meyakini bahwa anugerah keselamatan yang ditandai dengan baptisan juga dikaruniakan kepada anak mereka?
2. Bersediakah mereka mendidik anak yang akan dibabtis dalam terang takut akan Tuhan sehingga ketika dewasa anak tersebut dapat melakukan pengakuan percaya?
3. Apakah mereka bersedia menerima segala bentuk penggembalaan berdasar Alkitab apabila ternyata lalai mendidik anak yang dibabtiskan tersebut.
- Mendoakan kesanggupan dari calon Baptisan dilanjutkan doa penutup
- Pamitan
c. Perkunjungan persiapan Sidi/Pengakuan Percaya
Perkunjungan Persiapan Sidi/Pengakluan Percaya dilaksanakan guna mempersiapkan kesungguhan calon Sidi sehingga pelayanan penerimaan Pengakuan Percaya yang akan dilayankan sungguh merupakan berkat dari Tuhan kepada warga tersebut. Perkunjungan dilaksanakan sekurang-kurangnya oleh 2(dua) orang anggota majelis. Adapun tatacara perkunjungan dilaksanakan sebagai berikut:
- Pembukaan dengan menjelaskan maksud kedatangan dan dilanjutkan dengan doa
- Menanyakan apakah sungguh mengajukan permohonan pelayanan Sidi/Pengakuan Percaya, apakah berdasar keinginan sendiri dan tidak ada paksaan dari pihak manapun.
- Menerangkan arti Sidi?Pengakuan Percaya kepada calon sidi, dapat juga dimulai dengan mengajukan pertanyaan tentang apakah mereka mengetahui makna Sidi/Pengakuan Percaya.
- Menanyakan lima macam pertanyaan yang diajukan dalam pertelaan:
1. Apakah saudara meyakini telah menerima anugerah keselamatan yang ditandai dengan baptisan ketika masih kanak-kanak?
2. Apakah Percaya kepada Allah yang Esa yang menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus menurut kesaksian Alkitab?
3. Apakah bersedia memelihara iman dan besaksi serta bertanggung-jawab dalam kehidupan bergereja?
4. Apakah besedia memelihara kekudusa Sakranen, bersekutu dengan jemaat dan meyakini sahadat?
5. Apakah bersedia menerima penggembalaan jika hidupnya menyimpang dari ajaran Alkitab?
- Mendoakan kesanggupan dari calon Baptisan dilanjutkan doa penutup
- Pamitan

d. Perkunjungan Persiapan Peneguhan Nikah dan pemberkatan perkawinan
- Pembukaan dengan menjelaskan maksud kedatangan dan dilanjutkan dengan doa
- Menanyakan apakah sungguh mengajukan permohonan pelayanan Peneguhan Nikah dan Pemberkatan Perkawinan, apakah berdasar keinginan sendiri dan tidak ada paksaan dari pihak manapun.
- Meneliti motivasi calon penganten, persiapan administrasi Catatan Sipil, menanyakan sejauh mana Katekisasi Pranikah dilaksanakan.
- Menanyakan jenis liturgy Manten yang akan dipilih, memakai bahasa pengantar apa dan apakah menginginkan pelayanan bidston sebelum pelaksanakan.
- Meneliti “Kemungguhan” calon penganten dengan menanyakan apakah mereka sudah jatuh dalam dosa melanggar hukum ke-7 ataukah belum.
- Mendoakan Calon Pengantin dan keluarga
- Pamitan
Catatan:
- Sangat baik apabila pada saat perkunjungan kedua mempelai didampingi oleh orang tuanya.
- Apabila ditemukan ada pasangan calon pengantin yang sudah jatuh ke dalam dosa, sesegera mungkin pengunjung melaporkan kepada majelis harian agar segera dapat ditangani secepatnya.
e. Perkunjungan persiapan penerimaan pertobatan
- Pembukaan dengan menjelaskan maksud kedatangan dan dilanjutkan dengan doa
- Menanyakan apakah sungguh mengajukan permohonan pelayanan Pertobatan, apakah berdasar keinginan sendiri dan tidak ada paksaan dari pihak manapun.
- Meneliti dengan pertanyaan: 1. apakah ybs mengakui dosanya serta dengan tulus menyesali dosa tersebut, dan kemudian ingin menyatakan pertobatan 2. apakah ybs meyakini bahwa Tuhan Allah berkenan menerima pertobatannya serta mengakui bahwa GKJ di sini merupakan alat-Nya untuk menyatakan penerimaan atas pertobatan tersebut 3. Apakah Ybs berjanji untuk hidup suci, menaati kehendak Allah serta menjauhi perbuatan dosa 4. apakah Ybs bersedia dengan senang hati menerima segala bentuk penggembalaan berdasarkan Alkitab.
- Mendoakan warga tersebut
- Pamitan
f. Perkunjungan penanjihan calon anggota Majelis
- Pembukaan dengan menjelaskan maksud kedatangan dan dilanjutkan dengan doa
- Menyerahkan surat panggilan dari Majelis GKJ Boyolali
- Memotivasi dengan membacakan Firman Tuhan terambil dari I Petrus 5:2-3 dan pambereg untuk kesediaan ybs.
- Mengingatkan tentang tanggal batas waktu jawaban kepada Majelis GKJ Boyolali
- Mendoakan warga tersebut
- Pamitan

2. Tugas keseharian sebagai anggota Majelis
Pada Prinsipnya tugas keseharian anggota Majelis erat dengan tugas utama yang melekat pada jabatan kemajelisan:
a. Pendeta dalam kaitan tentang pengajaran Gereja
b. Penatua dalam kaitan dengan Pemerintahan Gereja(wibawa Gereja secara Rohani)
c. Diaken dalam kaitannya dengan penanganan kesejahteraan jemaat dan masyarakat secara jasmani
Diluar itu sebenarnya ada pelayanan anggota Majelis dalam keseharian diluar sidang:
a. Mendampingi Pengurus kelompok dan pepanthan
b. Mendampingi badan-badan pembantu majelis yang ditugaskan kepadanya
c. Menjadi komunikator antara jemaat dengan pejabat gerejawi lainnya.
- menampung permasalahan/situasi yang sungguhpun bukan dalam kewenangan jabatannya
- menyampaikan permasalahan/situasi tewrsebut kepada pejabat yang bersangkutan
- penyampaian dapat informal keseharian, atau kalau perlu disampaikan kepada persidangan
d. Membantu jemaat yang akan mengadakan bidston:
- Mencari informasi/mengunjungi serta kalau perlu memberikan masukan kepada jemaat yang akan mengadakan bidston
- Mendata hari, tanggal, jam, serta keperluan bidston
- Mengkomunikasikan pengorganisasian jemaat kepada pengurus kelompok/pepanthan
- Menjembatani komunikasi jemaat dengan pembawa bidston yang diinginkan
e. Membantu jemaat yang membutuhkan penanganan pastoral
- dengar-dengaran dan tanggap akan permasalahan anggota jemaat
- menganalisa apakah permasalahan tersebut masuk dalam katagori pastoral psikologi ataukan pastoral hukum gereja(pamerdi)
- membawa/mengkolsutasikan masalah tersebut lepada pendeta untuk turut memikirkan katagori permasalahan
- turut terlibat dalam penanganan masalah apabila diperlukan
f. Mendampingi jemaat yang akan punya kerja yang berkaitan dengan gereja
- Sebaiknya anggota majelis dilibatkan dalam kepanitiaan jemaat yang akan punya kerja yang melibatkan gereja(pernikahan, pertunangan atau yang lain)
- Anggota majelis berfungsi sebagai komunikator antara jemaat dengan persidangan majelis

PERSONALIA MAJELIS HARIAN

GEREJA KRISTEN JAWA BOYOLALI
Dalam Persekutuan Gereja-gereja di Idonesia
Jl. Pahlawan 60 Boyolali, 0276 321696
http://www.gkjboyolali.blogspot.com/




PERSONALIA MAJELIS HARIAN
GKJ BOYOLALI


KETUA I : PDT. SIMON JULIANTO, S.TH, M.SI
KETUA II : PNT. SOEKIDI, BIE
KETUA III : PNT. WASINO GRASIA, S.PD

SEKRETARIS I : DKN. BUDIANTO H.W., S.PD
SEKRETARIS II : DKN. AT. AGUS RIYANTO, S.PD

BENDAHARA I : DKN. NASIB, SE
BENDAHARA II : PNT. BASWARDI

BIDANG KEESAAN:
KETUA BIDANG : PNT. DRA. KRISTIANA KARYAWATI
SEKRETARIS BIDANG : DKN. MENIK WAHYUDI

BIDANG PWG
KETUA BIDANG : PNT. KASMANTO H.P.
SEKRETARIS BIDANG : DKN. UNTUNG SETIASA BAYU PURNAMA

BIDANG PELAYANAN :
KETUA BIDANG : PNT. DRS. SUSANTO BAMBANG HARTONO
SEKRETARIS BIDANG : DKN. DJOKO SUDIANTO

BIDANG PENATALAYANAN:
KETUA BIDANG : DKN. SUDIARTO, S.PD
SEKRETARIS BIDANG : DKN. NASIB, SE

BIDANG KESAKSIAN :
KETUA BIDANG : PNT. MARTINUS HORMAN, SM.HK
SEKRETARIS BIDANG : DKN. ATMADI PURNOMO

BIDANG PEMBANGUNAN:
KETUA BIDANG : PNT. DRS. SOELISTIYARSO, SH, MH
SEKRETARIS BIDANG : DKN. DRS. AGUS PRATIKNO

Minggu, 17 Mei 2009

PASKAH ANAK GKJ BOYOLALI








PERAYAAN PASKAH ANAK GKJ BOYOLALI
Hari minggu, 17 Mei 2009 menjadi hari istimewa bagi warga GKJ boyolali,baik warga tua maupun muda. Pada kebaktian pagi pk. 07.00 serta kebaktian siang pk. 09.00 warga boleh penerima pemeliharaan iman dariTuhan Yesus berupa Sakramen Perjamuan Kudus. Pak pendeta Simon secara marathon melayani Perjamuan Kudus di dua kebaktian tersebut secara berturut-turut.
Tetapi ternyata kesukacitaan bukan miliknya warga dewasa saja, hari ini Komisi Pelayanan Anak menyelenggarakan Paskah Anak GKJ Boyolali. Tidak tanggung-tanggung.. mereka mendatangkan tim Panggung Boneka dari GUPDI (Gereja Utusan Pantekosta Indonesia) Solo. Edaran dari PLN yang mengingatkan bahwa hari ini pk. 09.00-15.00 akan terjadi pemadaman listrikuntuk wilayah kelurahan Pulisen dan Siswodipuran (dimana GKJ Boyolali terletak) tidak menyurutkan rencana ini. Ketika tepat pukul 09.00 listrik mati (membuat majelis dan pendeta mengeluarkan ekstra tenaga pada saat kebaktian siang), komisi pelayanan anak segera menyewa Genset: biar anjing menggonggong… eh biar listrik oglangan Paskah anak GKJ Boyolali tetap berlangsung.
Jumlah anak SM yang diperkirakan hadir sekitar 80an anak, tetapi biasanya lebih karena satu anak dikawal oleh orang tuanya masing-masing. He he jadi bertanya sendiri yang pengin nonton panggung boneka sebenarnya anaknya ato orang tuanya sich?? Ya barangkali dua-duanya; karena waktu orang tua Sekolah Minggu dulu belum pernah melihat Panggung boneka. Terlihat kehadiran anak didominasi anak-anak yang berasal dariboyolali, pepanthan Paras serta pepanthan Selo.
Acara yang disusun dalamn Paskah anak cukup meriah, apalagi kakak-kakak pengasuh sengaja mengulur-ulur waktu dengan selalu mengajak menyanyi dan bermain. Padahal anak-anak sudah tidak sabar menunggu pertunjukan inti yaitu panggung boneka. Setiap kali diajak nyanyi, anak-anak selalu nyeletuk “kapan Panggung Bonekanya??”… akhirnya tiba juga waktunya panggung boneka, tim GUPDI yang dipimpin mbak Ninik membawakan cerita anak yang suka berbohong dan mencuri, anak tersebut akhirnya merasakan hukuman Tuhan serta bertobat. Adapun ayat hafalan yang diwajibkan untuk anak-anak GKJ Boyolali pada Panggung Boneka kali ini adalah Yoh 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Menarik memperhatikan polah tingkah anak-anak tersebut. Mereka sangat lucu dan spontan. Ketika mereka tidak sabar untuk segera melihat pertunjukan Panggung Boneka.. mereka protes, tetapi pas panggung boneka dimunculkan.. ehada yang menangis ketakutan. Yach namanya juga anak-anak, meskipun takut mereka tetep melihat.. minta digendong sembari matanya tidak lepas daripertunjukan. Sekali-sekali menutup mata untuk mengurangi ketakutan. Selamat PASKAH anak anak.

Sabtu, 16 Mei 2009

PENDETA DAN KELUARGA

Aku orang yang beruntung karena dapat melayani Tuhan di gerejaNya, yaitu di GKJ Boyolali. Gereja yang terletak di kaki gunung Merapi dan Merbabu. Namaku Simon Julianto, asli cah Sukoharjo.. Solo ke selatan. Ibuku warga GKJ militant bernama Siti Aminah, beliau motivator utamaku menjadi pendeta, melalui ibu aku boleh tumbuh menjadi orang yang takut akan Kristus. Sementara bapakku adalah Soetarno Adiprajitno, bapak adalah pensiunan guru SPG Sukoharjo.. periang sekaligus pemarah. Karakter yang membingungkan, syukur aku banyak mewarisi periangnya.. he he.
Istriku bernama Juni Jermiyati, perawan asli Boyolali yang kunikahi pada 19 September 1998. Kata orang kalau jadi pendeta jangan ambil jemaat sebagai istri/suami.. nanti susah menempatkan diri... ternyata tidak terbukti pada kami, yach karena ndambleg saja. Perkawinan kami dikaruniai anak.. permata kami semata wayang "Harari Netanya Theon" yang lahir pada 14 Juli 2000, anak millenium katanya. Saat ini kami menempati rumah pemberian Kristusdi Perum. Griya pulisen, Boyolali.
GKJ Boyolali mengenalku sejak 18 Pebruari 1996, melalui perkenalan kotbah perdana di Gedung Jl. Pahlawan 60... eh pertengahan Maret 1996 diminta orientasi.. lanjut pilihan bulan Juli. Waktu itu setelah terpilih harus nunggu sidang Klasis Reguler bulan Pebruari 1997 menyetujui dibimbing. Akhirnya paremtoar pada Sidang Reguler Klasis Kartasura januari 1998. Yach setelah lulus pada bulan Mei tepatnya tanggal 30 tahun 1998 GKJ Boyolali menahbiskan aku sebagai pendeta jemaat.
Tak terasa sudah 13 tahun aku di GKJ Boyolali, Banyak jemaat yang sudah kukenal.. tapi banyak juga yang belum.. he he golongan pendhito gak gatekan. tetapi memang penekanan pelayananku lebih banyak pada penataan pengajaran serta penatalayanan. lima tahun pertama yang kulakukan adalah perluasan jaringan lokal GKJ Boyolali. mengapa..? karena selama aku orientasi Jaringan lokal gereja sangat terbatas, dikenal karena kebetulan banyakpejabat yang adalah warga gereja... tetapi suatu saat kan mereka pensiun, siapa link yang akan dipakai? maka gereja harus membuktikan diri tampil PD tanpa tergantung pada person-person tertentu. Itulah yang menyebabkan tahun-tahun pertamaku banyak perhatian keluar yang aku tekankan. bukannya tanpa resiko, biasa... warga dha ngrasani penditane ora sregep, kakehan metu. yach tidak apa.. wong mereka tidak tahu apa yang mereka katakan (Lho kok melu-melu Gusti Yesus). Tetapi alhasil sekarang mereka pada tahu bagaimana link yang terbangun akibat "banyak keluar" saat ini menjadi fondasi yang kuat bagi establisnya GKJ Boyolali berhadapan dengan pihak manapun. GKJ Boyolali dapat bergaul baik dengan agama manapun, bukan karena takut, tetapi karena merasa sejajar.
Mungkin judheg dengan kendableganku maka warga gereja lama-lama dapat menerima aku apa adanya. Mereka membolehkan aku kuliah lagi di PPSA Satya Wacana, molor malah tapi akhirnya lulus pada pertengahan tahun 2008.. puji Gusti ternyata ora ngisin-isini lulus dengan predikat Magna Cumlaude. Tesis yang kuusung adalah "Dialog Praksis Agama" dengan basis penelitian komunitas umat beragama yang turut kubangun sejak tahun 1998 yaitu LBKUB (lembaga Bhakti Umat Beragama).
Sungguhpun saat ini aku belum optimal melayani pasamuwane GUSTI di GKJ Boyolali, tapi ada satu hal yang tidak pernah disangka oleh sebagian besar warga.. Aku betah di GKJ Boyolali, aku cinta GKJ Boyolali. Jadi sampai saat ini tidak terbersitpun dalam benak untuk alih pelayanan ke gereja lain. Aku tidak tahu ini keberuntungan atau ketidakberuntungan bagi warga GKJ Boyolali. Rahasia Kristus

RENSTRA GKJ BOYOLALI

PENGANTAR RENSTRA GKJ BOYOLALI

Gereja Kristen Jawa Boyolali adalah bagian dari Sinode Gereja-gereja Kristen Jawa, suatu sinode yang telah berusia 78 tahun. Sebagai bagian integral sinode GKJ, GKJ Boyolali juga mengalami proses perkembangan bersama dengan 283 GKJ lainnya mengarungi sejarah, bersikap dan bertindak sesuai dengan perkembangan jaman. Dalam kebersamaan tersebut GKJ Boyolali juga melakukan pergumulan-pergumulan gereja pada aras sinodal maupun Klasikal. Oleh karena itu apa yang terjadi pada aras sinodal maupun Klasikal sangat mempengaruhi pelayanan GKJ Boyolali.
Sungguhpun demikian Tata Gereja dan Tata Laksana Sinode Gereja-Gereja Kristen Jawa juga menekankan asas Presbiterial; suatu asas yang mengakui Majelis setempat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam mengejawantahkan Imamat Am orang percaya. Asas ini menjamin suatu gereja setempat untuk merancang arah dan pola pelayanannya agar dapat menjawab tantangan lokal, tentu saja dalam roh kebersamaan gereja-gereja sesinode.
Sebagaimana diketahui pada tanggal 16-21 November 2006 Sinode GKJ telah melakukan persidangannya yang ke-24; dalam persidangan tersebut telah diputuskan perubahan struktur kepemimpinan Sinode: perubahan dari pola deputat jamak menjadi deputat tunggal dengan nama Badan Pelaksana Sinode(Bapelsin). Demikian Pula Sidang Klasis Kartasura XXX telah merubah pola pelayanannya menjadi deputat tunggal dengan nama Badan pelayanan Klasis. Perubahan-perubahan ini dilakukan dalam rangka mengemban amanat Sidang Sinode Non Reguler di Bandungan tahun 2005 yang menetapkan berlakunya Pokok-Pokok Ajaran Gereja edisi 2005, Tata Gereja dan Tata Laksana GKJ, serta Pertelaan GKJ. Belum lagi pada aras Klasis Kartasura; pada 19 Maret 2007 akan melaksanakan Sidang Klasis Kartasura XXI yang membicarakan pengesahan pembiakan Klasis menjadi Klasis Kartasura dan Klasis Boyolali. Dalam rancangan yang telah disiapkan juga akan dibicarakan bahwa GKJ Boyolali adalah Pusat Pelayanan/sekretariat Klasis Boyolali. Semua perubahan pada aras Sinodal maupun Klasikal adalah untuk menjawab tantangan percepatan perubahan dunia (ekonomi, Sosial, Politik, Budaya, Pengetahuan daan lainnya) yang sangat pesat
Dalam Aras Lokal GKJ Boyolali juga terpanggil untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut diatas. Oleh Karena itu sejak tahun 2006 majelis gereja dibantu oleh Tim program Gereja menyusun suatu rancangan program Gereja Kristen Jawa Boyolali. Penyusunan program yang dilaksanakan sedapat mungkin menggunakan metode yang telah dibakukan dalam teologia Pembangunan Jemaat. Sejak pertengahan tahun 2006 tim dan Majelis GKJ Boyolali mencari masukan dan kritik dari warga gereja, melakukan proses verifikasi data dan kemudian melakukan analisa. Atas berkat rahmat Tuhan Yesus sajalah maka program GKJ Boyolali telah tertuang dalam Renstra GKJ Boyolali tahun 2007-2009. Semua yang yang disusun adalah jabaran dari Visi dan Misi GKJ Boyolali yang telah ditetapkan oleh Majelis GKJ Boyolali. Adapun Visi dan Misi GKJ Boyolali adalah:
Visi: Terwujudnya Kesempurnaan keselamatan manusia melalui pulihnya hubungan yang benar antara Allah dengan manusia dan sesamanya
Misi:
Melaksanakan pertobatan seutuhnya
Mewujudkan kehidupan yang bersuka cita dalam pengharapan
Mengembangkan kemandirian dan kebersamaan jemaat GKJ Boyolali
Turut mewujudkan masyarakat Boyolali yang sejahtera

Program sejak tahun 2007 yang dipaparkan oleh Majelis beserta dengan badan-badan pembantu Majelis adalah bagian dari Renstra GKJ Boyolali. Dengan demikian sesungguhnya mulai tahun 2007 GKJ Boyolali telah mencanangkan diri sebagai gereja yang berprogram. Perubahan mendasar tahun 2007 yang mungkin perlu diketahui jemaat adalah:

1. Majelis telah merubah Penataan organisasi pelayanan Majelis dengan membagi Bidang-Bidang Kemajelisan, badan-badan pembantu Majelis menjadi ada 6 bidang yaitu :
1.1.1. Bidang Keesaan, membawahi Komisi Ibadah, Komisi PAK/Pendidikan
1.1.2. Bidang PWG, membawahi Komisi pengkaderan, Komisi Hukum Politik , Kepanitiaan MPDK-MPHB-MPAN, TIM penjemaatan
1.1.3. Bidang Pelayanan membawahi Komisi Pralenan, Komisi Adiyuswa, Komisi Seni Budaya & Komunikasi Masa
1.1.4. Bidang Kesaksian, membawahi : KomisiWarga Dewasa ( Sub Komisi Bapak2 dan Sub Komisi Ibu-Ibu , Sub Komisi Keluarga Muda), Komisi Pemuda dan Remaja, Komisi Anak
1.1.5. Bidang Kehartakan menjadi Penatalayanan membawahi : Komisi Rumah Tangga (leburan dari urusan Inventaris ). Komisi Pengembangan Ekonomi Jemaat
1.1.6. Bidang Pembangunan. Membawahi Panitia Pemeliharaan dan Renovasi Gedung Gereja
Diluar Badan-Badan Pembantu Majelis tersebut Diatas juga dibentuk Tim Verifikasi yang langsung berada dibawah Ketua majelis
2. Pelantikan Badan-Badan Pembantu Majelis teraebut pada tanggal 14 januari 2007. Dalam menjalankan tugasnya para Badan Pembantu Majelis telah mendapatkan uraian Job Discription yang jelas Perubahan mendasar ini adalah jawaban awal GKJ Boyolali terhadap pergumulan-pergumulan lokal. Tentu saja perubahan ini akan menarik hidup bergereja pada konsekuensi pelayanan yang lebih optimal. Baik pelayanan yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif; rohani maupun jasmani. Kita mendapati adanya sentuhan-sentuhan pelayanan yang selama ini dianggap tabu dalam kehidupan bergereja seperti urusan Ekonomi jemaat oleh KPEJ, atau urusan hukum dan politik oleh Komisi Hukum dan Politik. Kita juga melihat bahwa ada komisi yang secara khusus menangani pengkaderan guna menjawab tantangan lemahnya proses kaderisasi dan regenerasi GKJ Boyolali. Pada ranah kebaktian jemaat kita mendapati sentuhan Komisi Ibadah. Dalam rangka menyambut Klasis Boyolali dan semakin banyaknya kegiatan yang membutuhkan sarana dan prasarana yang semakin lengkap, telah terbentuk Panitia Pemeliharaan dan Renovasi Gedung Gereja. Semua bentuk pelayanan yang semakin banyak dan luas ini membutuhkan sarana dan prasarana pendukung, Majelis membentuk Komisi Rumah Tangga untuk mengurusnya. Dan mungkin ada banyak lagi perubahan yang dilakukan dalam pelayanan mendatang. Tentu saja dalam melakukan semua program, Seluruh jemaat diharapkan mendapat bagian dari pelayanan yang semakin luas.

SEJARAH GKJ BOYOLALI

SEJARAH SINGKAT GKJ BOYOLALI

Latar Belakang[1]

A. Penyebaran Injil masuk Boyolali Selatan Timur
Pada tahun 1920 di Slanggen, desa Ngaru-aru Kecamatan Banyudono sudah ada beberapa orang Kristen Kerasulan, yang di bawa oleh seorang pengikut Kyai Sadrah dari Purwosari Kerten. Karena Mbah Ranudikromo (yang adalah tokoh setempat) sedang sakit keras dan dapat disembuhkan dengan darah Kristus lewat orang-orang Kristen kerasulan, sejak saat itulah pada tahun 1942 di Slanggen ada gereja Kristen Kerasulan yang berstatus Pepantan.
Pada tahun 1925 di Pengging didirikan sekolah rakyat dan balai pengobatan Zending. Pada tahun 1927 di Pengging berdiri Gereja Kristen Jawa yang juga berstatus pepantan.


B. Penyebaran Injil masuk Boyolali Utara Timur
Pada tahun1925 dalam rangka memperingati hari raya Pentakosta, dari GKJ Margoyudan Solo mengadakan kegiatan PI di pedesaan yang di pimpin oleh dr. H A van Andel dan Bpk Yerubeam yang adalah guru injil. Salah satu desa di kecamatan Nogosari yakni desa Bendo terkena jamahan PI. PI ini ternyata terus berlanjut dengan ikut sertanya jemaat dari daerah Boyolali mengikuti kebaktian di GKJ Margoyudan Solo, meskipun harus bermalam untuk dapat mengikuti ibadah minggu pagi di Solo. Dengan bertambahnya orang percaya dari desa sekitarnya, yakni ; dari Plaur dan Cengklik, maka diselenggarakan kebaktian sendiri yang dilayani oleh guru injil Bpk Yerubeam bertempat di Jenalas.
Pada tahun 1926 di Sambi dibuka Sekolah Rakyat dan Balai Pengobatan Zending. Dengan adanya SR dan BP Zending ini, maka PI semangkin maju dan warga Kristen semakin bertambah.
Pada tahun yang sama di Simo dibuka perkebunan rakyat oleh Zending, tempatnya di dukuh Karangjati, Simo. Ternyata di Karangjati ini juga sudah ada yang telah menerima Injil yaitu orang tua dari sesepuh di Simo yaitu Bpk Atmopurwono.
Pepantan Slanggen, Plaur, dan Pengging pada waktu itu adalah di bawah pembinaan GKJ Margoyudan.


Kegiatan PI yang dilakukan Zending dan perkembangannya:
Sekolah Rakyat Zending, yang berada di Sambi. Pada tahun 1955 didirikan SD Kristen Plaur.
Badan Pengobatan Zending di Sambi, dalam perkembangannya usaha ini dilakukan dengan cara pengobatan gratis yang dilakukan sebelum ataupun sesudah kebaktian minggu. Hal ini sangat berpengaruh bagi keluasan Kerajaan Allah di Plaur dan sekitarnya. Oleh Bpk Atmopurwono akhirnya di Simo dapat di buka BP Kristen dengan mantri Bpk Atmopurwono, dan kini tumbuh menjadi BP Kristen “Sari Waras II” milik Yakkum bertempat di Kedunglengkong Simo.
Orang Kristen yang duduk dalam DPRD GR pada waktu itu juga turut berjasa dalam perluasan Kerajaan Allah di lingkungan Boyolali
a. R Atmosudargo : tahun 1960-1964
b. SH Sularno : tahun 1965-1971

Perkembangan Gereja
Pada tahun 1939 Bpk R Atmosudargo diangkat sebagai guru injil di Boyolali dengan tugas: melakukan PI di kota dan sekitarnya.yang di harapkan dapat menjadi gereja induk GKJ di Boyolali. Namun karena perkembangannya sangat lambat, maka pada tahun 1949 Bpk R Atmosudargo justru banyak bertugas di Pengging dan Plaur, dan pada tahun itu juga beliau diangkat menjadi Lurah di Pulisen dengan demikian status sebagai guru injil ditinggalkan, namun misinya untuk mengabarkan Injil tetap membara.
Baru pada tahun 1953 karena berkat Tuhan Yesus Kristus d Boyolali dapat dirintis dan dimulai dengan adanya kebaktian minggu pertama, meskipun baru ada beberapa keluarga Kristen. Kebaktian bertempat di rumah Bpk R Atmosudargo di Singoranon Kel. Pulisen, Boyolali Kota. Mulai tahun 1954 Boyolali mendapatkan 3 orang guru injil yakni:
Bpk SY Sudarno untuk Boyolali
Bpk B Sumarto Untuk Plaur
Bpk Martosuhardjo untuk Slanggen dan Pengging
Mulai saat itu rapat-rapat kemajelisan sudah dapat dilakukan, dan formalnya baru pada tahun 1955 pepantan : Slanggen, Plaur, Pengging dan Boyolali menyatu dalam satu kemajelisan, dibawah pembinaan Klasis Surakarta yang di tangani oleh pendeta utusan atau konsulen.
Pendeta utusan atau konsulen yang pernah bertugas dalam persiapan GKJ Boyolali adalah : Bpk D Reksodarmodjo, Bpk R S Purwowidagdo, Bpk Hadisewoyo. Sedangkan khusus untuk Boyolali Kota dengan bertambahnya warga maka tempat kebaktian mulai tahun 1957 di pindahkan di rumah Bpk Suroso Yosomartono sebelah barat SMP 1 Boyolali dan tahun 1962 telah mulai menempati gereja sendiri di jalan Pahlawan. Pembangunan gereja di jalan Pahlawan ini tanahnya adalah pemberian dari Pemerintah Daerah, sedangkan modal pembangunan di dapat dari Klasis Surakarta. Pada tahun 1987 dilakukan rehab total atas bangunan gedung gereja ini karena kondisi bangunan yang sudah terlalu tua. Dana pembangunannya antara lain didapat dari : Bpk Radius Prawiro, Pemda TK I, Pemda TK II Boyolali yang disampaikan oleh Bpk Bupati Moh Hasbi pada tahun 1988. Juga satu hal yang tidak dapat dilupakan dengan perkembangan gereja ini, ialah pemerintah Kab Boyolali secara khusus memberikan tanah untuk makam Kristen dan Katolik di sebelah timur makam umum di Sasonolayu Boyolali.

Pengembangan Pepantan sebagai langkah awal persiapan pendewasaan gereja :
1. Pepantan Boyolali ditetapkan sebagai gereja induk, dengan sesepuh ; R Atmosudargo. Suroso Yosomartono, S Priyosutirto.
2. Pepantan Slanggen dengan sesepuh : Somaprawiro, Imandimedjo.
3. Pepantan Pengging dengan sesepuh ; Mbah Hardjosetomo, S Marsudiraharjo.
4. Pepantan Plaur dengan sesepuh ; Pawiridihardjo, Citrosuwiro.

A. Pendewasaan GKJ Boyolali.
1. Hari Sabtu Wage tanggal 18 Juli 1957, adalah hari dimana GKJ Boyolali ditetapkan dan diresmikan menjadi hari jadi GKJ Boyolali, bertempat di gedung gereja Slanggen, Banyudono. Hal ini telah tercatat pada akte sinode GKJ Jawa Tengah. Pada waktu peresmian berdirinya,GKJ Boyolali meliputi pepantan:
1.1 Slanggen desa Ngaru-ngaru Kec Bayudono
1.2 Plaur desa Kepoh Kec Sambi
1.3 Pengging desa Dukuh Kec Bayudono
1.4 Boyolali Kota

2. Adapun anggota mejelis GKJ Boyolali waktu diresmikan adalah, antara lain ;
2.1 R Atmosudargo
2.2 S Martsudirahardjo
2.3 Martosudiraardjo
2.4 Ardjosetomo
2.5 Somapawiro
2.6 Imandimedjo
2.7 Pawirodihardjo
2.8 Tjitrosuwiryo

3. Adapun guru injil terdapat 3 orang, antara lain :
3.1 B Sumarto
3.2 S Y Sudarno
3.3 Martosuhardjo

4. Karena pada waktu di resmikan GKJ Boyolali menjadi dewasa belum memiliki pendeta sendiri maka pelayanan dilakukan dengan pendeta utusan yaitu Bpk Pendeta R S Purwowidagdo.
B. Perkembangan Sesudah Pendewasaan
Perkembangan Pepantan sejak tahun 1957 sampai dengan tahun 1965.
1.1 Ampel Sesepuh Bp Radiyanto
1.2 Musuk Sesepuh Bp Sunarno
1.3 Cepogo Sesepuh Bp Sastrodirahardjo
1.4 Selo Sesepuh Bp Sastrosudarmo
1.5 Paras Sesepuh Bp Pardjan SA BA
1.6 Berdug Sesepuh Bp Margono
1.7 Simo Sesepuh Bp Atmopurwono
1.8 Penggung Sesepuh Bp Darmo Lukas
1.9 Gunung Puyuh Sesepuh Bp Suwarto dan Hutomo BA

2. Pendeta
Pada saat itu ada dua calon pendeta yang akan melayani GKJ Boyolali, diantaranya : Bpk B Smarto yang adalah guru Injil, sedangkan yang kedua adalah Bpk Sudaryono. Setelah dilakukan pemilihan, maka Bpk Sudaryono yang terpilih menjadi Pendeta Jemaat bagi GKJ Boyolali untuk yang pertama pada tanggal 30 Mei 1966. dengan ditahbiskannya Bpk Sudaryono sebagai Pendeta Jemaat GKJ Boyolali, maka dengan demikian GKJ Boyolaliberstatus “dewasa penuh”.

3. Pengembangan Pendewasaan
Dalam perjalanannya menuju gereja yang “dewasa penuh”, maka GKJ Boyolali juga mengalami perkembangan.
a. GKJ Simo tahun 1968 yang meliputi pepantan ; Sima, Penggung, Plaur, Gunung Puyuh, Karanggede (penyerahan dari GKJ Manahan, Solo), Andong (penyerahan dari GKJ Margoyudan, Solo). Pada tahun1981 GKJ Simo dapat dimampukan oleh kuasa Kepala Gereja untuk berkembangmenjadi dua gereja yang dewasa, yaitu : GKJ Simo (meliputi :Simo, Karanggede, dan Andong) dan GKJ Plaur (meliputi : Penggung, Plaur, dan Gunungpuyuh).
b. GKJ Pengging tahun 1972 meliputi pepanta : Slanggen dan Pengging
c. GKJ Boyolali sendiri mengalami perkemangan yang sangat berarti, baik dilihat dari jumlah warga mupun jangkauan pelayanannya. Yang meliputi : Selo, Cepogo, Paras, Ampel, Berdug, Kenteng, Boyolali, Teras, Musuk, Jemowo, Sangen
Sejak menjadi gereja dewasa secara penuh, sampai saat ini GKJ Boyolali telah memasuki usia yang ke 48 tahun, tepatnya pada 18 Juli. Dalam kedewasaannya GKJ Boyolali terus meningkatkan pelayanannya baik kedalam maupun keluar. Pada tanggal 25 Juli 2002 GKJ Boyolali, telah mendewasakan tiga pepanthannya. Ketiga pepantan itu adalah : Ampel, Berdug, dan Kenteng, yang melebur menjadi satu dengan induknya yaitu GKJ Ampel. Sehingga sekarang ini GKJ Boyolali melayani 8 pepatan. GKJ Boyolali pada saat ini di layani oleh seorang pendeta yang aktif, yaitu Pdt. Simon Julianto STh, yang pada tahun 1998 di tahbiskan menjadi pendeta GKJ Boyolali yang ke dua, sedangkan Bpk Pdt Sudaryono sudsah memasuki masa emeritus pada tahun 1999 yang lalu. Di dalam data statistik yang ada perkembangan warga gereja GKJ Boyolali sebagai berikut :
[1] Sejarah GKJ Boyolali, pada peringatanhari jadi GKJ Boyolali yang ke 38 18 Juli 1995. merupakan sumber sekunder yang didapat dari lapoarn stage Mahasiswa tahun 2003.