Sabtu, 29 Agustus 2009

EKLESIOLOGI PEMBANGUNAN JEMAAT


EKLESIOLOGI PEMBANGUNAN JEMAAT
(Rangkuman tulisan Pdt. Darsono Eko Nugroho, MTh
tentang Pemrakarsa PJ di LPPS GKJ dan GKI Jateng)


SIAPA GEREJA/JEMAAT ITU ?
1. SUATU KEHIDUPAN BERSAMA KEAGAMAAN
Semua orang Kristen, mengenal kata gereja. Namun tidak semua orang Kristen memiliki pemahaman yang utuh mengenai pengertian Gereja. Pertanyaannya adalah “siapa gereja itu” dan bukan “apa gereja itu”, karena pertama-tama kata “gereja” bukan sekedar gedung atau suatu tempat ibadah, melainkan pertama-tama dan terutama menunjuk “sekelompok orang”. Sekelompok orang macam apakah “gereja” itu ?
Memperhatikan perwujudan konkritnya sehari-hari, kita dapat mencatat beberapa pokok pengertian, antara lain sebagai berikut :
a. Ada Pemrakarsanya
Sekelompok orang itu terbentuk karena adanya prakarsa dari sesuatu di luar diri orang-orang yang berkelompok itu. Sesuatu di luar diri orang-orang itu diyakini dan diakui sebagai Allah atau Kristus.
b. Ada Relasi Timbal-balik
Terwujudnya sekelompok orang ini juga dikarenakan ada “relasi” terus menerus antara orang-orang itu sendiri-sendiri dan bersama-sama dengan “sang pemrakarsa”. Relasi itu bersifat “timbal balik”, saling menanggapi.
c. Dibangun oleh Kesepakatan Bersama
Kecuali sekelompok orang itu terbentuk karena prakarsa “sesuatu di luar dirinya”, namun terwujudnya sekelompok orang itu juga didasarkan pada kesepakatan orang-orang itu sendiri. Maksudnya ialah kesepakatan orang-orang itu terhadap “sesuatu di luar dirinya” dan kesepakatan dengan orang-orang lain dalam kelompok itu. Kebersamaan orang dalam kelompok itu terbentuk berdasarkan kesepakatan mereka, pilihan mereka, dan kesediaan mereka menjalani kebersamaan.
d. Ada Kesediaan untuk Terbuka dan Saling Menerima
Sekelompok orang-orang itu terdiri atas orang-orang yang berbeda usia, bermacam-macam orang, bermacam-macam keinginan, bermacam-macam harapan. Meskipun demikian, perbedaan-perbedaan itu bisa diatasi, karena masing-masing orang bersedia terbuka terhadap orang lain dan bersedia untuk saling menerima yang satu terhadap yang lain.
e. Ada Solidaritas dengan Penderitaan Orang Lain dan Terbuka terhadap Orang Lain
Sekelompok orang-orang itu juga menghadapi orang-orang lain yang ada di luar kelompok. Orang-orang yang ada di luar kelompok itu adalah orang-orang yang membutuhkan pertolongan, membutuhkan tempat berlindung, membutuhkan tempat untuk menjalani kehidupan sebagai manusia seutuhnya. Kepada orang-orang di luar kelompok itu, sekelompok orang yang telah terbentuk menjadi suatu kehidupan bersama itu mau terbuka, mau mengundang dan memberi tempat.
Usaha untuk memahami secara utuh tentang arti gereja, mutlak diperlukan. Apalagi di tengah-tengah zaman yang tengah berubah seperti sekarang ini. Sebab justru karena gereja hidup dan berkarya dalam suatu masyarakat tertentu yang tengah berubah ini, gereja memiliki keharusan untuk menampakkan diri dalam bentuk konkrit kehidupan gerejawi, agar tidak terasing dari masyarakatnya dan sekaligus tanpa harus kehilangan jati dirinya.

2. INTI ATAU HAL HAKIKI TENTANG GEREJA
Gereja sebagai suatu kehidupan bersama keagamaan, memiliki unsur-unsur hakiki yang membedakan dirinya dengan kehidupan bersama keagamaan lainnya. Unsur hakiki itu dapat dilihat dari cara berada atau bentuk penampakannya. Bentuk penampakan Gereja ini dapat kita lihat dari kesaksian Markus 3:13-15 dan 1 Pet. 2:9-10.
Berdasarkan kesaksian Markus 3:13-15 dan 1 Pet. 2:9-10 ini, dapat dikemukakan adanya tiga hal penting, yaitu :
 pertama, dikemukakan adanya prakarsa Allah atau Yesus memanggil orang-orang yang dikehendaki, dan orang-orang yang dipanggil itu menjadi pengikut-Nya.
 kedua, di sekitar Dia yang memanggil, berhimpunlah suatu persekutuan baru, yaitu persekutuan keduabelas murid atau imamat yang rajani.
 ketiga, persekutuan baru itu tertuju kepada dunia, yaitu memberitakan Injil atau memberitakan perbuatan-perbuatan besar Allah dan mengusir roh-roh Jahat.

Kalau ketiga hal itu diterjemahkan ke dalam gagasan yang dapat memberi arah bagi berfungsinya Gereja, ketiga hal itu merupakan ciri-ciri Gereja yang fungsional, yaitu :

4.1. Persekutuan yang hidup dalam pergaulan tersembunyi dengan Allah dalam Yesus Kristus
Prakarsa Allah atau Yesus menimbulkan adanya pergaulan antara orang-orang yang dipanggil dengan Sang Pemanggil. Dengan demikian pergaulan dengan Allah menjadi ciri khas pertama Gereja yang Fungsional. Pergaulan ini bersifat tersembunyi, baik pergaulan sebagai pribadi maupun sebagai persekutuan. Pergaulan dengan Allah ini antara lain mewujud dalam doa, ibadah, dan pengakuan iman.

4.2. Persekutuan yang hidup dalam semangat saling peduli dan saling berbagi kehidupan
Persekutuan baru orang-orang yang dipanggil, mencerminkan persekutuan satu sama lain yang saling mempedulikan dan melayani. Dengan demikian persekutuan yang saling mempedulikan dan saling melayani ini menjadi ciri khas kedua Gereja yang Fungsional. Persekutuan yang saling mempedulikan itu mewujud antara lain dalam persekutuan-persekutuan yang saling mendoakan dan saling mempedulikan, perkunjungan, persekutuan peribadahan, kebersamaan dengan sesama gereja (persekutuan yang lain) dsb.

4.3. Persekutuan yang hidup dalam semangat keterbukaan dan solider terhadap penderitaan sesama
Persekutuan yang terarah kepada dunia, menyatakan kesaksian dan pelayanan kepada dunia. Dengan demikian persekutuan yang bersaksi dan melayani dunia, menjadi ciri khas ketiga Gereja yang Fungsional. Persekutuan yang bersaksi ini mewujud antara lain dalam pewartaan Injil, pelayanan kepada orang-orang yang menderita, perjuangan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, ikut ambil bagian dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dll.

Secara ringkas dapat dikatakan, ciri khas atau intisari Gereja yang fungsional ialah pergaulan tersembunyi dengan Allah, persekutuan yang saling mempedulikan dan saling melayani, serta persekutuan yang bersaksi dan melayani dunia. Ketiga ciri khas ini tidak dapat dihilangkan salah satu, atau ditekankan satu ciri khas dan kurang ditekankan ciri khas yang lain. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang harus mendapatkan perhatian yang sama, seperti yang dapat kita amati dalam Sakramen Perjamuan Kudus.
Intisari yang dikemukakan di atas, cukup memadai untuk memberi arah kehidupan Gereja dalam masyarakat yang sedang berubah. Pergaulan tersembunyi dengan Allah, menolong manusia sekuler untuk menghayati hubungan dengan Allah, persekutuan yang saling mempedulikan dan saling melayani menolong manusia yang sangat individual agar saling menyadari dirinya sebagai makhluk relasional, serta persekutuan yang bersaksi dan melayani menolong manusia yang sedang berjalan menuju proses berhenti menjadi manusia.

MENGAPA PEMBANGUNAN JEMAAT ?
1. ASAL USUL KEBERADAAN GEREJA
Ketika Tuhan Yesus hidup dan berkarya di dunia ini, orang-orang yang mengamini ajaran dan karya Tuhan Yesus belum disebut dengan istilah gereja seperti yang kita mengerti sekarang ini. Sampai dengan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, setelah Ia menyelesaikan karya penyelematan-Nya atas orang-orang berdoa, orang-orang itu disebut sebagai para pengikut Kristus. Dalam perkembangan selanjutnya, sepeninggal Tuhan Yesus orang-orang itu disebut Kristen (Kis. 11:26). Mereka mengadakan pertemuan-pertemuan bersama, untuk mengenang kembali dan memelihara nilai-nilai cinta kasih yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, serta mewartakan kekayaan pengalaman mereka hidup dalam cinta kasih Yesus itu kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Pertemuan-pertemuan itu menjadi suatu kelompok pertemuan ibadah (1 Kor. 11:8, Kis. 15:22), persekutuan rumah (Roma 16:5, 1 Kor. 16:19, Kol. 4:15 dsb.), kehidupan bersama orang beriman di suatu tempat tertentu (Kis. 11:22, Roma 16:1 dsb.).
Sebagai orang-orang yang disebut Kristen, mereka belum memikirkan perlunya nama yang tepat untuk mengungkapkan keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakatnya. Hal ini disebabkan adanya keyakinan bahwa tidak akan lama lagi Tuhan Yesus yang telah bangkit dari kematian-Nya dan telah naik ke Sorga akan segera datang lagi ke tengah-tengah mereka. Namun ketika kedatangan Tuhan Yesus mereka perkirakan tidak akan lama lagi itu ternyata tidak kunjung terwujud, dalam perjumpaannya dengan kelompok-kelompok keagamaan yang ada di masyarakat, mereka mulai bergumul tentang perlunya mereka memiliki identitas keberadaannya. Mereka mulai menyebut kelompok mereka sebagai suatu jemaat Allah (1 Kor. 1:2, 2 Kor. 1:1 dsb.), rumah tangga/keluarga Allah (1 Tim. 3:15 bdk. Kis. 10:7, Roma 8:15, Gal. 4:9), umat Allah yang baru (1 Pet. 2:9-10), tubuh Kristus (1 Kor. 10:16-17, 1 Kor. 12:12-27, Roma 12:4-5, Kol. 1:24, Kol. 3:15, Ef. 4:16). Dengan sebutan-sebutan itulah mereka menyatakan dirinya sebagai suatu kelompok keagamaan, atau suatu kehidupan bersama keagamaan yang berpusat pada karya penyelamatan Allah di dalam Kristus.

2. HAKIKAT GEREJA
Seperti telah dikemukakan di atas, sebutan-sebutan tentang gereja itu dapat mengungkapkan gambaran tertentu tentang hakikat Gereja. Namun demikian, gambaran tentang hakikat Gereja itu tidak lengkap dan utuh, mengingat bahwa sebutan-sebutan tentang gereja itu ingin mengungkapkan segi-segi tertentu dari gereja sesuai dengan tuntutan situasi di mana gereja hidup dan berkarya.
Kata gereja, berasal dari kata igreja (Portugis), untuk menterjemahkan kata ekklesia (Yunani) yang ada dalam Alkitab. Kata ekklesia yang dipakai sebanyak 112 kali dalam PB, kebanyakan dipakai dalam surat-surat Paulus, kitab Kisah Para Rasul, dan kitab Wahyu dipakai untuk menunjuk suatu perkumpulan orang-orang beriman, seperti perkumpulan manusia pada umumnya. Dalam Alkitab terjemahan Yunani (Septuaginta), kata ekklesia dipakai untuk menterjemahkan kata kahal (Ibrani) yang menunjuk persekutuan umat Israel di hadapan Allah (Ul. 4:10, 9:10, 10:4). Justru pemakaiannya di dalam Septuaginta inilah yang kemudian melatarbelakangi kata ekklesia untuk menyebut gereja dalam PB.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan ekklesia adalah kehidupan bersama keagamaan dari orang-orang yang menanggapi karya penyelamatan Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Maksudnya ialah bahwa kehidupan bersama keagamaan itu anggota-anggotanya adalah orang-orang yang telah secara konkrit mengalami karya penyelamatan Allah dalam Kristus Yesus, atau orang-orang yang telah diselamatkan Allah dalam Kristus Yesus. Tindakan orang-orang yang mengamini dan menerima keselamatan Allah itu dinyatakan dalam pengakuan mereka bahwa Yesus adalah Juru Selamat, dan mereka yang sama-sama mengakui pengakuan itu, terikat satu sama lain sebagai suatu kehidupan bersama.
Perlu kita ketahui bahwa karya penyelamatan Allah itu merupakan tindakan Allah dan atas prakarsa Allah sendiri. Tindakan dan prakarsa Allah itu diungkapkan dengan kata-kata Allah memanggil, Allah menyelamatkan, Allah membawa keluar dari kegelapan (bdk. 1 Pet. 2:9-10). Oleh adanya panggilan Allah inilah maka kehidupan bersama keagamaan yang disebut gereja itu memiliki watak illahi. Artinya, keberadaan mereka merupakan akibat dari adanya karya Allah, atau kehendak Allah.
Di samping watak illahi, gereja juga berwatak manusiawi. Watak manusiawi gereja nampak dalam tanggapan atau jawaban manusia terhadap panggilan atau penyelamatan Allah. Orang-orang yang menanggapi karya Allah itu kemudian bersekutu, membentuk kehidupan bersama sebagai orang-orang yang sama-sama mengalami karya penyelamatan Allah. Oleh karena watak manusiawinya itulah, maka gereja memiliki keterbatasan-keterbatasan dan kelemahan-kelemahan.
Berdasarkan hakikatnya sebagai kehidupan bersama keagamaan yang berpusat pada karya penyelamatan Allah, maka gereja menjadi tempat di mana setiap orang beriman menikmati karya penyelamatan Allah itu, serta tempat di mana setiap orang beriman diperlengkapi untuk ambil bagian dalam karya Allah di dunia ini (Ef. 4:11-16).

3. GEREJA/JEMAAT MEMBANGUN DIRI
Seperti Gereja-gereja lainnya di sekitarnya, gereja di mana kita menjadi anggotanya adalah Gereja Tuhan di dunia ini. Sebagai Gereja Tuhan di dunia ini, dalam menjalani hidup dan karyanya di dunia ini tidak secara otomatis sudah menjadi Gereja yang benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan.
Seperti telah kita bicarakan sebelumnya, Gereja sebagai kehidupan bersama keagamaan, memiliki dua watak sekaligus, yaitu berwatak illahi sekaligus manusiawi. Sebagai suatu kehidupan bersama (persekutuan) orang-orang beriman selaku manusia, Gereja tidak dapat melepaskan dirinya dari cacat menusiawi yang dimilikinya itu. Hal ini terjadi bukan hanya karena adanya tantangan dan pengaruh dunia di mana gereja hidup dan berkarya, tetapi juga karena secara internal masih memiliki cacat manusiawi sebagai suatu persekutuan manusiawi. Cacat manusiawi Gereja itu dapat kita temukan dalam berbagai kekurangan dan keterbatasan Gereja. Pada pihak lain, sebagai suatu persekutuan orang beriman yang hidup di dunia ini, dalam menjalani kehidupannya di dunia ini Gereja tidak hanya berusaha untuk “menggarami dan menerangi dunia”, tetapi sebaliknya juga sering dipengaruhi oleh apa yang sedang terjadi dalam dunia, yang mana pengaruh dunia itu tidak seluruhnya positip bagi kehidupan orang beriman.
Menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan Gereja itu, Paulus sejak ia menggembalakan Gereja Perdana, mengajak agar Jemaat menyadari itu. Kekurangan dan keterbatasan Gereja serta adanya pengaruh buruk dunia itu, tersirat dalam teguran Paulus kepada anggota Gereja di Efesus (Efesus 5:15-21). Itulah sebabnya Paulus mendorong Gereja sejak Gereja itu ada untuk terus menerus memperbarui dirinya, agar dalam situasi apapun Gereja berupaya menjadi Gereja yang dikehendaki Allah (Efesus 4:1-16). Dengan demikian keinginan untuk membangun Gereja ini sama tuanya dengan Gereja itu sendiri.
Menyadari perlunya Gereja terus menerus membangun diri, mendorong Gereja dengan berbagai upaya yang ada padanya untuk terus menerus melakukan perbaikan-perbaikan. Perbaikan itu menyangkut kehidupan Warga Gereja, seperti misalnya meningkatkan Penggembalaan, Pembinaan Warga Gereja, dan Pengaderan-pengaderan. Melalui kegiatan ini diharapkan agar segenap warga Gereja diperlengkapi dan dipersiapkan menjalani hidup kesehariannya sebagai orang beriman yang setia. Dengan usaha ini pada saatnya dapat mempengaruhi kehidupan Gereja dalam menjalankan fungsinya di dunia ini.
Kecuali itu, perbaikan-perbaikan juga dilakukan dengan merumuskan ulang identitas Gereja dalam hubungannya dengan masyarakat di sekitarnya dan penataan organisasi Gereja, dengan harapan agar menjadi Gereja yang kehadirannya memberi pengaruh positif bagi dunia di mana Gereja ditempatkan oleh Allah. Usaha terakhir ini pernah diperjuangkan oleh Gereja-gereja Protestan di negeri Belanda mulai tahun 1930-an.
Seiring dengan usaha yang sudah dan tengah dilakukan seperti dikemukakan di atas, di tengah-tengah situasi zaman yang berubah dan berkembang dewasa ini, perubahan dan perkembangan zaman yang dimulai di Eropa yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, suatu perubahan dan perkembangan situasi yang dipicu oleh perkembangan teknologi itu, menuntut adanya upaya pembaruan hidup bergereja secara terpadu, terarah, dan terus menerus berkesinambungan. Upaya terpadu maksudnya ialah keseluruhan upaya pembaruan yang dilakukan oleh Gereja itu perlu disamakan geraknya, tidak sendiri-sendiri dan terpisah-pisah, melainkan menjadi satu gerakan bersama. Upaya itu juga perlu dilakukan secara terarah, maksudnya ialah agar gerakan pembaruan yang dilakukan itu menuju arah yang jelas demi perwujudan Gereja sesuai dengan kehendak Allah dalam hubungan timbal balik dengan masyarakat di mana Gereja menjalani kehidupan dan karyanya. Selanjutnya upaya itu juga perlu dilakukan terus menerus berkesinambungan, maksudnya ialah dilakukan secara bertahap dan terus menerus sebagai gerakan maju, berangkat dari keadaan Gereja apa adanya dewasa ini, menuju masa depan Gereja yang diharapkan. Tuntutan pembaruan Gereja seperti itulah yang kemudian melahirkan apa yang disebut Pembangunan Jemaat.

4. TUJUAN PEMBANGUNAN JEMAAT
Dalam Gereja, usaha perbaikan hidup dan karya Gereja itu secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua tujuan pokok, yaitu : pertumbuhan ekstensif (pertumbuhan ke luar) dan pertumbuhan intensif (pertumbuhan ke dalam). Pertumbuhan Ekstensif mengandaikan adanya perluasan gereja karena adanya pertambahan warga gereja baru. Pengandaian ini diinspirasi oleh pengalaman gereja pada zaman Para Rasul, dalam memberitakan injil kepada bangsanya dan bangsa-bangsa lain. Usaha itu mengakibatkan munculnya gereja-gereja baru yang menggembirakan, karena ada banyak orang-orang baru dibaptiskan (Kisah 2:41). Namun kegembiraan karena munculnya gereja-gereja baru itu segera disusul oleh adanya keprihatinan baru, yaitu keprihatinan akan kelangsungan, kesinambungan, dan pendangkalan penghayatan iman akan Tuhan Yesus Kristus. Itulah sebabnya pertumbuhan ekstensif itu segera ditindaklanjuti dengan pertumbuhan intensif. Pertumbuhan Intensif mengandaikan perlunya warga gereja baru itu semakin mendalami penghayatan imannya akan Yesus Kristus (Kisah 2:42).
Dalam suratnya kepada Jemaat Korintus, Paulus mengatakan bahwa dalam rangka pertumbuhan ke dalam, orang luar sejak semula harus sudah diperhatikan (I Kor. 14:23-25). Hubungan pertumbuhan ke dalam dan ke luar juga ditegaskan oleh kenyataan bahwa jemaat yang berkembang dengan baik, selalu menimbulkan daya tarik untuk orang luar (bdk. Kisah 2:41-47). Dari sudut pandang yang lain, perhatian ke luar juga penting bagi pembangunan ke dalam. Gereja yang hanya sibuk dengan kelangsungan dan keselamatan dirinya sendiri, niscaya kehilangan daya tariknya. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dalam rangka memperbaiki kehidupan gereja itu merupakan usaha serempak membenahi pertumbuhan ke dalam demi pertumbuhan ke luar, sekaligus membenahi pertumbuhan ke luar sebagai pra syarat bagi pertumbuhan ke dalam.
Lebih lanjut sebenarnya tujuan Pembangunan Jemaat itu pertama-tama dan terutama bukan demi pertumbuhan ke luar dan ke dalam. Tujuan Pembangunan Jemaat yang sesungguhnya adalah agar Gereja dalam hidup dan karyanya di dunia ini sungguh-sungguh menjadi Gereja Tuhan Yesus. Sebab, gereja adalah buah karya penyelamatan Allah, yang difungsikan oleh Allah untuk ikut ambil bagian dalam karya penyelamatan Allah atas selutuh umat manusia (Kisah 13:2, 17:18; Matius 4:18-22; 2 Timotius 1:7-9, 2:3). Oleh karena itu, tujuan Pembangunan Jemaat bukan semata-mata demi dan untuk gereja itu sendiri. Tujuan Pembangunan Jemaat lebih luas dari Gereja, yaitu mengusahakan agar tindakan yang dilakukan di dalam dan oleh Gereja, senantiasa mengacu pada tujuan karya Penyelamatan Allah dalam relasi dengan konteks kehidupannya, yaitu kedatangan Kerajaan-Nya di dunia ini.

PEMBANGUNAN JEMAAT
1. APA PEMBANGUNAN JEMAAT ITU ?
Seperti dikemukakan oleh Rob van Kessel, apapun yang dipikirkan oleh orang beriman mengenai nilai-nilai kekristenan seperti kasih, pengampunan, harapan yang sangat diperlukan oleh kehidupan masyarakat pada umumnya, akan lenyap dari sejarah kalau hal-hal itu tidak dihayati dalam rangka hidup ber-Gereja. Berdasarkan pemahaman ini, maka semua usaha perbaikan hidup ber-Gereja itu tidak akan ada maknanya kalau dilepaskan dari hakikat keberadaan Gereja. Dengan demikian keseluruhan usaha perbaikan hidup ber-Gereja itu seharusnya terarah pada dan demi perwujudan Gereja sesuai dengan hakikat keberadaannya. Dengan kata lain, segala usaha perbaikan hidup ber-Gereja itu seharusnya demi dan untuk perwujudan Gereja sesuai dengan kehendak Kristus.
Dalam upaya menangani perwujudan Gereja sesuai dengan kehendak Kristus, Pembangunan Jemaat melihat Gereja baik dari perspektif orang-orang dengan keseluruhan aktivitas yang dijalankannya, maupun dari perspektif sistem (unsur-unsur yang saling kait-mengait menyatu) yang ada dan berlaku dalam Gereja. Itulah sebabnya, Pembangunan Jemaat tidak sama dengan tugas menggembalakan, membina dan mengader Warga Gereja, yang perhatian utamanya tertuju kepada anggota dan pemimpin Gereja dengan segala aktivitasnya. Pembangunan Jemaat juga bukan merupakan tambahan dari tugas-tugas yang sudah ada sebelumnya, karena Pembangunan Jemaat berupaya memadukan tugas-tugas yang telah ada itu agar menjadi satu kesatuan gerak. Pembangunan Jemaat lebih luas dari itu semua, juga lebih luas dari membangun organisasi dan struktur Gereja. Pembangunan Jemaat menyangkut keseluruhan Gereja, baik orang-orangnya dengan berbagai kemampuan yang ada di dalamnya, kegiatan-kegiatannya, serta unsur-unsur yang saling kait-mengkait atau sistem yang berlaku dan dijalani dalam kehidupannya.
Kecuali itu, dalam rangka menangani Gereja, Pembangunan Jemaat juga melihat Gereja dari dua sisi, sisi masa kini sebagai suatu kenyataan apa adanya, dan sisi masa depan yang dicita-citakan sebagai suatu harapan. Hal ini dilakukan agar Gereja semakin setia menjalani kehidupan dan karyanya sesuai dengan kehendak Kristus. Untuk itu, dalam rangka Pembangunan Jemaat diperlukan adanya upaya merumuskan visi dan misinya berdasarkan keyakinan imannya, serta dibutuhkan adanya pengenalan yang memadai terhadap situasi masyarakat di mana Gereja hidup dan berkarya, sehingga visi dan misinya itu menjadi visi dan misi yang aktual. PJ mengintegrasikan kenyataan dengan cita-cita menjadi Gereja Yesus Kristus, berangkat dari Gereja secara konkret, apa adanya, menuju Gereja yang dicita-citakan sesuai kehendak Kristus dalam relasi timbal-balik dengan situasi masyarakat yang ada di sekitarnya.
Dalam rangka mengupayakan perwujudan Gereja sesuai dengan kehendak Kristus itu, upaya ini merupakan upaya perubahan (transformasi). Pembangunan Jemaat mengolah sumber daya yang dimiliki oleh Gereja (orang-orangnya, pengetahuannya, kemampuan dananya, serta peluang-peluang yang dimilikinya) supaya menghasilkan sumber daya yang menjadi berkat bagi masyarakat di sekitarnya, seperti misalnya : cinta kasih, pertobatan, kerelaan saling berbagi, semangat persaudaraan dsb. Dalam melakukan perubahan itu kecuali didasari oleh penghayatan iman dan pengetahuan teologis yang mendalam, juga menggunakan cara-cara dan sarana-sarana yang tepat seperti dikembangkan dalam ilmu Manajemen Gereja. Perubahan itu juga tidak berlangsung sesaat, namun dilakukan secara bertahap secara sinambung dan terus menerus : tahap penyadaran terhadap perlunya perubahan, tahap penelitian terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki, tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pemantapan. Lebih lanjut upaya perubahan itu tidak hanya dilakukan oleh para pemimpin Gereja atau orang-orang tertentu dalam Gereja, melainkan dilaksanakan oleh segenap warga Gereja. Pemimpin beserta segenap warga Gereja merupakan subyek sekaligus obyek Pembangunan Jemaat. Dengan demikian Pembangunan Jemaat merupakan keseluruhan usaha perubahan yang dilakukan oleh Gereja secara terencana, sinambung, dan terus menerus.
Mempertimbangkan apa yang telah dikemukakan ini, secara singkat dapat dirumuskan bahwa Pembangunan Jemaat adalah keseluruhan usaha yang dilakukan oleh Gereja untuk merencanakan dan melaksanakan proses-proses perubahan secara menyeluruh, terpadu, terarah dan sinambung dalam hubungan timbal balik dengan masyarakat di mana Gereja hidup dan berkarya, agar Gereja mampu mewujudkan hidup dan karyanya sebagai Gereja Yesus Kristus di dunia ini.

2. PEMBANGUNAN JEMAAT SEBAGAI SUATU PANGGILAN GEREJA
Pembangunan Jemaat sebagai suatu panggilan Gereja, dibangun berdasarkan penggunaan istilah oikodome (pembangunan) dan oikodomein (membangun, mendirikan, membuat) yang dipakai dalam alkitab. Dalam Perjanjian Lama, kata oikodomein itu dipakai untuk menunjuk pada pekerjaan atau perbuatan Allah yang membangun Bait-Nya (mis. Yes. 66:1 bdk. Kis. 7:48; Yer. 33:7). Kata “Bait” dalam PL ini dipahami sebagai “tempat Allah berdiam”, yaitu tempat dalam arti fisik (bangunan Bait Allah) maupun dalam arti sekelompok orang yang disebut dengan kata “umat Allah”. Dalam PB, pengertian “Bait” sebagai “umat” juga berlaku, dan bahkan oleh Tuhan Yesus maupun oleh Rasul-rasulNya secara tegas menunjuk kepada “Gereja” sebagai suatu persekutuan orang beriman (Yoh. 2:21; Kis. 9:31; Ef. 2:19-22). Dengan singkat dapat dikatakan bahwa Pembangunan Gereja itu sebenarnya adalah pekerjaan Allah sendiri.
Namun selanjutnya dalam rangka melaksanakan pekerjaan-Nya itu, Allah juga melibatkan orang-orang beriman dalam Gereja untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya. Kesediaan Allah melibatkan orang-orang beriman dalam pekerjaan-Nya itu, dapat kita jumpai dalam firman-Nya : “..... Dan biarlah dirimu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembengunan (oikodome) rumah rohani ....” (I Petrus 2:5). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun orang beriman sebagai manusia memiliki berbagai keterbatasan dan kelemahan, namun Allah sendiri-lah yang menghendaki. Allah menghendaki agar orang-orang beriman menggunakan seluruh kemampuannya untuk ikut ambil bagian dalam karya-Nya (Mat. 22:37-40). Oleh karena itu, Allah sendiri pula yang memperlengkapi orang-orang beriman untuk ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya (I Kor. 12:4; I Kor. 14:12), dan yang pada akhirnya Allah jugalah yang menyempurnakan pekerjaan orang beriman dalam pembangunan Gereja-Nya (I Kor. 13:8-12). Apa yang dilakukan oleh Allah dan yang juga dipercayakan kepada orang-orang beriman, itu Allah lakukan dengan tujuan agar Kerajaan Allah semakin terwujud di dunia ini menuju kepada kesempurnaannya, yang berlangsung secara bertahap sebagai suatu pertumbuhan (I Kor. 3:6; Wahyu 21:2).
Dari apa yang telah diuraikan di atas dapat dikatakan bahwa sebagai suatu panggilan, Pembangunan Jemaat adalah upaya orang-orang beriman untuk melibatkan diri dalam pekerjaan Allah, dengan bimbingan Roh Kudus serta terbuka menggunakan ilmu pengetahuan yang dimiliki secara bertanggung jawab, dan dilakukan tahap demi tahap, sehingga Gereja menjadi seperti yang dikehendaki oleh Kristus.

3. BERDASARKAN IMAN, TERARAH, PARTISIPATIF, DAN TERENCANA SERTA BERKESINAMBUNGAN
Untuk mewujudkan praktek Pembangunan Jemaat seperti yang dinyatakan di atas, ada kombinasi antara pekerjaan kuasa Allah dalam Roh Kudus dan keterlibatan manusia dengan segala kemampuan yang ada padanya. Itu berarti upaya Pembangunan Jemaat adalah perilaku manusia yang didasari oleh suatu keyakinan bahwa sampai kini Allah masih terus berkarya di dalam dan melalui Gereja-Nya seperti yang dinyatakan dalam Alkitab maupun dalam Tradisi Gereja (Ajaran Gereja, Tata Gereja, Keputusan-keputusan Persidangan Sinode / Klasis), serta dalam menjalankan karya-Nya itu Allah berkenan melibatkan manusia dengan segala kemampuan yang ada padanya sebagai kawan sekerja Allah. Dengan demikian Pembangunan Jemaat merupakan tindakan iman dan perilaku rasional.
Pembangunan Jemaat juga dilakukan atas dasar pemahaman bahwa Gereja perlu dibangun dalam proses waktu sehingga semakin hari menunjukkan Gereja yang keberadaannya tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga berfungsi dalam karya penyelamatan Allah, sehingga Gereja bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, bagi dunia yang dikasihi Allah. Pembangunan Jemaat dilakukan secara terarah, demi perwujudan Gereja yang berfungsi sebagai alat penyelamatan Allah, sehingga Gereja dalam menetapkan visi dan misinya terarah pada usaha mewujudkan tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah, yaitu kasih, Kebenaran, dan Keadilan.
Sebagai suatu keterlibatan warga gereja terhadap karya Allah, Pembangunan Jemaat juga perlu dilakukan secara partisipatif. Artinya melibatkan sebanyak dan seluas mungkin warga gereja. Peningkatan peran-serta segenap earga gereja dalam sebuah proses perubahan itu tidak hanya berarti sebanyak-banyaknya mengajak orang untuk terlibat dalam suatu pekerjaan. Pada kenyataannya karisma-karisma yang ada pada anggota Gereja adalah berbeda-beda, dan oleh karenanya peningkatan partisipasi itu juga berarti upaya mengelompokkan orang pada keberadaannya masing-masing sesuai dengan kapasitas, minat, maupun pribadinya. Ada kelompok-kelompok yang terlibat selaku pemrakarsa, ada kelompok yang terlibat sebagai pelaksana, ada pula yang terlibat dalam memelihara hal-hal yang sudah seturut dengan kehendak Allah, dst. Kesemuanya itu dilibatkan sejak awal perencanaan, sehingga masing-masing kelompok memahami peran dan fungsi masing-masing.
Selanjutnya belajar dari ilmu pengetahuan sosial, suatu tindakan perubahan itu tak dapat berlangsung dengan sendirinya dan dalam waktu sekejap, melainkan perlu disengaja dan berjalan secara bertahap serta berkesinambungan. Pemahaman ini juga seturut dengan karya Allah dalam mewujudkan Kerajaan-Nya di dunia ini, yaitu bukan dengan “sekejap” tetapi melalui proses pertumbuhan (I Kor. 3:6). Oleh karena itu Pembangunan Jemaat perlu berlangsung secara terencana dan berlangsung secara berkesinambungan.
Dimulai dengan tahap penyadaran bahwa ada sesuatu yang tidak memuaskan, yang perlu diubah, selanjutnya ada tahap meneliti/menganalisa ketidakberesan yang ada, dilanjutkan tahap perencanaan yang merencanakan apa-apa yang akan dilakukan dan oleh siapa saja yang akan terlibat, kemudian tahap pelaksanaan yang menjalankan kegiatan sesuai rencana serta mengatur siapa melakukan kegiatan apa. Akhirnya sampai pada tahap menciptakan kondisi agar hasil yang telah dicapai dapat diteruskan atau dimantapkan. Tahap terakhir ini disebut tahap pemantapan atau tahap evaluasi. Proses tahapan ini tidak senantiasa merupakan garis linier, tetapi dapat terjadi bahwa setelah sampai pada proses tertentu perlu untuk balik kembali pada proses semula, sehingga dapat digambarkan bahwa proses tahap demi tahap ini dapat berupa proses spiral.


LIMA FAKTOR VITALISASI GEREJA
Pembangunan Jemaat, menolong Gereja agar menjalani hidupnya sebagai gereja yang vital, yaitu gereja yang memiliki daya hidup baik untuk anggota-anggotanya maupun untuk masyarakat di mana Gereja hidup dan berkarya. Jan Hendriks menjelaskan bahwa ada 5 (lima) faktor yang sangat mempengaruhi Vitalisasi Gereja. Faktor-faktor itu adalah sebagai berikut :
1. IKLIM BER-GEREJA YANG MENGGAIRAHKAN
Yang dimaksud dengan Iklim ialah pengakuan dan perlakuan terhadap setiap Warga Gereja sebagai subyek dalam hidup dan karya Gereja. Iklim yang baik akan mendorong Warga Gereja berpartisipasi lebih banyak dan tujuan yang ditetapkan oleh Gereja akan lebih banyak terpenuhi. Pengakuan dan perlakuan itu akan terwujud apabila :
• talenta, potensi, dan kemungkinan yang dikaruniakan Tuhan kepada setiap Warga Gereja diakui, dihargai, dan didayagunakan secara maksimal.
• informasi yang benar/jujur yang diperlukan bagi hidup berkeluarga, ber-Gereja, dan bermasyarakat disebarluaskan kepada setiap Warga Gereja.
• hal-hal yang berkenaan dengan hidup dan karya Gereja diputuskan oleh Pemimpin Gereja dengan melibatkan sebanyak mungkin Warga Gereja.
2. KEPEMIMPINAN GEREJA YANG MEMAMPUKAN
Yang dimaksud dengan Kepemimpinan adalah gaya dan sifat kepemimpinan yang dipraktikkan baik oleh Pejabat Gereja maupun para Aktivis Gereja dalam menjalankan tugas mereka. Kepemimpinan yang baik akan mendorong lebih banyak Warga Gereja untuk ikut ambil bagian dalam hidup dan karya Gereja. Gaya dan sifat kepemimpinan akan memampukan baik untuk para pemimpin maupun Warga Gereja yang dipimpinnya apabila :
• gaya kepemimpinan kolektif-kolegial, partisipatif, dan memampukan Warga Gereja dikembangkan.
• pengembangan diri para Pemimpin Gereja diperhatikan secara memadai.
• sifat kepemimpinan yang saling melayani/menggembalakan diberlakukan.
3. STRUKTUR GEREJA YANG RELEVAN DENGAN TUNTUTAN HIDUP DAN KARYA GEREJA
Yang dimaksud dengan Struktur Gereja adalah keseluruhan relasi timbal balik yang diatur dan ditata sedemikian rupa antara Warga Gereja secara individual maupun bersama-sama dengan para Aktivis dan Pejabat Gereja. Relasi itu bisa formal maupun informal. Struktur yang baik akan membuat Warga Gereja merasa menjadi bagian dari Gereja dan merasa memiliki Gereja dalam arti positip. Struktur Gereja akan relevan dengan tuntutan hidup dan karya Gereja apabila :
• keanekaragaman keberadaan Warga Gereja (usia, pekerjaan, minat, aspirasi politik, tradisi ber-Gereja dsb.) diakui dan ditata dalam struktur.
• karya kelompok-kelompok Warga Gereja diintegrasikan dengan Visi dan Misi Gereja.
• komunikasi dan kerjasama timbal balik saling memampukan antar Kelompok Warga Gereja dan antara Kelompok Warga Gereja dengan lembaga Gerejawi maupun non-Gerejawi dijalankan dengan baik.
4. JATIDIRI/IDENTITAS GEREJA YANG INSPIRATIF
Yang dimaksud dengan Jatidiri/Identitas adalah pemahaman yang dihayati oleh setiap Warga Gereja tentang siapa dan apa tugas mereka sebagai orang beriman maupun siapa dan apa tugas Gereja. Penghayatan Jatidiri/Identitas yang baik akan menjadi sumber inspiratif bagi setiap Warga Gereja dalam menjalani hidup dan karya Gereja. Penghayatan Jatidiri/Identitas akan inspiratif apabila :
• latar belakang keberadaan dan tradisi Gereja dihayati oleh segenap Warga Gereja.
• paham tentang inti Gereja dihayati oleh segenap Warga Gereja.
• peran dan fungsi setiap Warga Gereja dipahami oleh segenap Warga Gereja.
5. TUJUAN DAN TUGAS GEREJA YANG JELAS, RELEVAN, DAN TERJANGKAU
Yang dimaksud dengan Tujuan adalah segala sesuatu yang ingin diraih oleh Gereja, sedangkan yang dimaksud dengan Tugas adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan dalam rangka meraih tujuan Gereja. Tujuan dan Tugas yang baik akan membuka peluang bagi keterlibatan Warga Gereja dengan lebih baik. Tujuan dan Tugas akan jelas, relevan, dan terjangkau apabila :
• Visi dan Misi Gereja dirumuskan secara jelas oleh Pemimpin Gereja dengan melibatkan sebanyak mungkin Warga Gereja.
• karya Gereja dituangkan dalam perencanaan karya/pelayanan Gereja yang mengacu pada Visi - Misi Gereja dan tuntutan hidup Warga Gereja.


PROSES KEGIATAN PEMBANGUNAN JEMAAT

I. PENYADARAN DAN MOTIVASI
1. Tujuan:
Jemaat memiliki:
a. gambaran yang utuh dan menyeluruh tentang hidup dan karya Gereja setempat.
b. pengalaman menemukan keprihatinan.
c. motivasi untuk bersama-sama membangun Gereja.

2. Aktivitas:
a. Pemrakarsa PJ (d.h.i. Pendeta) mengadakan pertemuan-pertemuan dengan Penatua dan Syamas dalam hal khusus Yaitu gereja setempat sudah mempunyai tim program, maka merekalah yang diserahi untuk melakukan inisiasi awal:
1) Menjelaskan maksud pertemuan-pertemuan yang akan dilakukan, yaitu untuk mendapatkan gambaran utuh dan menyeluruh mengenai hidup dan karya Gereja.
2) Menjelaskan hakikat Gereja dan bersama-sama menemukan „inti/unsur dasar Gereja“.
3) Bersama-sama mendeskripsikan:
a) Gambaran umum hidup dan karya Gereja setempat meliputi:
(1) Aktor (berdasarkan status keanggotaan, fungsi, jenis kelamin, pendidikan, dll.)
(2) Aktivitas (rutin, temporer, insidental dll.)
(3) Lingkup Aktivitas (wilayah, lingkungan, kategorial, dll.)
b) Gambaran Umum Konteks Hidup dan Karya Gereja, meliputi:
(1) Geografis.
(2) Tradisi Gereja.
(3) Gereja-gereja lain di sekitarnya.
(4) Agama-agama lain.
(5) Sosio-Ekonomi.
(6) Sosio-Politik.
(7) Sosio-Budaya.
4) Bersama-sama menemukan keprihatinan/problem umum dengan menggunakan instrumen evaluasi hidup dan karya Gereja.
5) Bersama-sama mengolah, membahas hasil evaluasi hidup dan karya Gereja, dan menemukan keprihatinan umum Gereja setempat.
6) Bersama-sama membangkitkan tekat untuk bekerjasama dan bahu membahu mengatasi keprihatinan Gereja.
7) Bersama-sama membentuk kelompok kerja, yang akan diajak menjalankan proses Pembangunan Jemaat.

b. Kelompok Kerja mengadakan pertemuan-pertemuan dengan warga Gereja untuk memperluas kesadaran adanya keprihatinan Gereja:
1) Menjelaskan maksud pertemuan-pertemuan yang akan dilakukan, yaitu untuk mendapatkan gambaran utuh dan menyeluruh mengenai hidup dan karya Gereja.
2) Menjelaskan hakikat Gereja dan bersama-sama menemukan „inti/unsur dasar Gereja“.
3) Bersama-sama warga Gereja menemukan keprihatinan/problem umum dengan menggunakan instrumen evaluasi hidup dan karya Gereja.
5) Bersama-sama warga Gereja mengolah, membahas hasil evaluasi hidup dan karya Gereja, dan menemukan keprihatinan umum Gereja setempat.
6) Bersama-sama warga Gereja membangkitkan tekat untuk bekerjasama dan bahu membahu mengatasi keprihatinan Gereja.

II. ANALISIS
1. Tujuan:
Jemaat memiliki:
a. pengalaman menggunakan dan mengolah hasil kuesioner lima faktor dalam rangka menghayati situasi yang sebenarnya dan situasi yang dikehendaki.
b. pengalaman bersama-sama dalam menemukan dan merumuskan faktor-faktor konteks yang mempengaruhi situasi yang sebenarnya (keprihatinan).

2. Aktivitas:
a. Pemrakarsa PJ mengadakan pertemuan dengan Kelompok Kerja:
1) Menyiapkan jadwal dan agenda pertemuan dengan warga Gereja.
2) Menjelaskan tentang Profil Analisa, Cara Penggunaannya, dan Pengolahannya.
3) Latihan mengisi dan menilai kuesioner lima faktor.
3) Membagi tugas pendampingan terhadap warga Gereja dalam mengisi kuesioner lima faktor.

b. Kelompok Kerja mengadakan pertemuan-pertemuan dengan warga Gereja:
1) Menjelaskan kuesioner lima faktor vitalisasi gereja.
2) Mendistribusikan kuesioner lima faktor, meminta warga Gereja mengisi kuesioner, dan mendampingi warga Gereja dalam mengisi kuesioner lima faktor vitalisasi gereja.

c. Pemrakarsa PJ mengadakan pertemuan dengan Kelompok Kerja:
1) Mengolah hasil kuesioner lima faktor vitalisasi gereja.
2) Menyiapkan presentasi data yang sudah diolah.

d. Kelompok Kerja mengadakan pertemuan-pertemuan dengan warga Gereja:
1) Mempresentasikan dan mendiskusikan data hasil kuesioner lima faktor vitalisasi gereja.
2) Menemukan bersama akar masalah hidup dan karya gereja.
3) Menemukan dan merumuskan faktor-faktor konteks yang mempengaruhi munculnya akar masalah.
4) Mengolah umpan balik terhadap presentasi data hasil kuesioner lima faktor vitalisasi gereja.
5) Merumuskan kesepakatan untuk menangani akar masalah.


III. REFLEKSI
1. Tujuan:
Jemaat memiliki:
a. pengalaman menemukan faktor penghambat dan pendukung, kemungkinan menangani problem, dan merumuskan prioritas penanganan problem.
b. pengalaman bersama-sama menemukan dan merumuskan relevansi penanganan problem dengan paham teologis mutakhir dan kontekstual (kespel, koinonia, mistagogi).

2. Aktivitas:
a. Pemrakarsa PJ mengadakan pertemuan-pertemuan dengan Kelompok Kerja:
1) Menyiapkan jadwal dan agenda pertemuan dengan warga Gereja.
2) Mengolah umpan balik hasil diskusi tentang pengaruh faktor eksternal terhadap problem vitalisasi gereja.
3) Mengolah umpan balik hasil diskusi tentang faktor-faktor penghambat dan pendukung, kemungkinan menangani problem, menentukan prioritas penanganan problem vitalisasi gereja.
4) Menginventarisasi tulisan/paham teologis mutakhir dan kontekstual (kespel, koinonia, mistagogi) yang relevan dengan prioritas problem.
5) Merumuskan umpan balik hasil diskusi tentang nilai-nilai teologis penanganan prioritas problem vitalisasi gereja.

b. Kelompok Kerja mengadakan pertemuan-pertemuan dengan warga Gereja:
1) Mempresentasikan dan mempertajam problem vitalisasi gereja serta faktor eksternal yang berpengaruh.
2) Mendiskusikan faktor-faktor penghambat dan pendukung, kemungkinan menangani problem, menentukan prioritas penanganan problem vitalisasi gereja.
3) Mempresentasikan dan mendiskusikan rumusan prioritas penanganan problem, serta belajar bersama tentang paham teologis mutakhir dan kontekstual (kespel, koinonia, mistagogi) yang relevan dengan prioritas problem.
4) Menemukan dan merumuskan bersama nilai-nilai teologis penanganan prioritas problem vitalisasi gereja.
5) Membulatkan tekad menangani prioritas problem vitalisasi gereja.


IV. RENCANA AKSI DAN EVALUASI
1. Tujuan:
Jemaat memiliki:
a. pengalaman menentukan strategi kerja dalam menangani prioritas problem vitalisasi gereja.
b. pengalaman bersama-sama warga Gereja dalam menjabarkan tujuan penanganan prioritas problem ke dalam pokok-pokok program vitalisasi gereja, serta menyusun rencana evaluasi proses maupun produk.

2. Aktivitas:
a. Pemrakarsa PJ mengadakan pertemuan-pertemuan dengan Kelompok Kerja:
1) Menyiapkan jadwal dan agenda pertemuan dengan warga Gereja.
2) Mengolah umpan balik hasil diskusi tentang strategi kerja dalam menangani problem vitalisasi gereja.
3) Megolah umpan balik hasil diskusi tentang tujuan dan pokok-pokok program vitalisasi gereja.
b. Kelompok Kerja mengadakan pertemuan-pertemuan dengan warga Gereja:
1) Mempresentasikan prioritas penanganan problem dan mendiskusikan strategi kerja dalam menangani prioritas problem vitalisasi gereja.
2) Mengidentifikasi prioritas problem, dan mendiskusikan tujuan penangan prioritas problem, serta menemukan pokok-pokok program vitalisasi gereja, serta rencana evaluasi.
3) Mendiskusikan draf pokok-pokok program vitalisasi gereja, menyepakati rekomendasi program vitalisasi gereja, menyepakati rencana evaluasi program vitalisasi gereja.
4) Mempresentasikan dan memantapkan program vitalisasi gereja dan rencana evaluasi.
5) Menyerahkan pokok-pokok rekomendasi dan menyerahkan pokok-pokok rekomendasi itu kepada Majelis Gereja untuk ditindaklanjuti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar